oleh: Hilarus Alvaro
Hari pertama, sedikit lebih tertekan
Usai makan siang berakhir, para murid SMAK Santo Eugenius Purwokerto berkumpul dalam satu ruangan untuk menerima pembagian buku yang sudah dipesan beberapa hari sebelum hari literasi dimulai. Para murid dibagi secara berkelompok, dan setiap kelompok menuju ke tempat yang sudah dibagikan oleh staff Sekolah untuk melaksanakan literasi. Hari pertama mungkin sedikit lebih tertekan karena para murid yang sudah kelelahan setelah beberapa pelajaran pagi dan dilanjutkan untuk menyaring informasi dari buku untuk mengasah kembali kemampuan berpikir.
Siang itu suasana lingkungan SMAK sangat hening. Para murid diselimuti rasa lelah, dan fokus yang tidak boleh hilang kepada buku yang sedang dibaca. Dari 2 jam pertama, rata – rata murid hampir tidak menangkap apa yang telah mereka baca. Namun beberapa juga ada yang sudah bisa memahami hal yang dibaca oleh mereka.
Pada malam hari, jam kelas malam digantikan dengan literasi. Namun pada malam ini suasana para murid SMAK tidak lagi tertekan dan otak mereka sudah bisa berjalan dan menyaring informasi dari buku yang mereka baca dengan lancar. Malam itu para murid dibebaskan untuk memilih tempat untuk membaca buku asalkan tidak di dalam ruang kamar tidur asrama.
Sharing tentang hukum, teori, ilmu baru, dan hal – hal baru
Keesokan harinya seluruh jam pelajaran diganti dengan literasi. Hari ini ada beberapa murid yang sudah menyelesaikan literasinya dan ada juga beberapa yang belum selesai. Para murid yang sudah menyelesaikan membaca, diharapkan menuliskan resensi mereka tentang buku yang telah mereka baca. Malamnya beberapa murid yang sudah selesai menulis resensi mendapatkan free time dan ada beberapa yang baru menulis resensinya. Keesokan harinya tepatnya pada tanggal 29 Agustus 2026 beberapa murid yang belum menyelesaikan resensinya diharapkan menyelesaikannya dengan segera sebelum pukul 9 pagi karena mulai dari pukul 9 pagi para murid haru sharing tentang hal yang telah mereka dapatkan dari buku yang mereka baca.
Setelah semua menyelesaikan resensinya, sharing pun dimulai. Sharing dilakukan dalam kelompok masing – masing. Setiap orang sharing secara bergantian dan banyak sekali hal yang mereka bicarakan entah itu tentang hukum, teori, ilmu baru, dan hal – hal baru yang mereka dapatkan. Dari kegiatan literasi ini beberapa murid merasa ada beberapa kekurangan dalam kegiatan tersebut dan ada juga yang salah membeli buku dan akhirnya tidak membaca semuanya akibat waktu yang terbatas. Namun tak kalah juga ada beberapa murid yang puas akan kegiatan tersebut, para murid bebas mengekspresikan diri mereka dengan buku yang telah mereka pilih dan bahkan merasa termotivasi oleh buku – buku yang telah mereka baca. Ditambah lagi ada beberapa yang merasa terkesan dengan figur tertentu dari buku yang menyangkut tentang beberapa tokoh-tokoh penting yang baru mereka ketahui. Ada juga beberapa buku yang menyimpan kata – kata/kalimat yang benar-benar mendorong para murid untuk maju dalam melakukan kegiatan sehari – hari.
Inspiratifnya motto living in community
Kegiatan literasi ini tentu memiliki suatu tujuan yaitu untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, menganalisis, serta memahami berbagai informasi secara kritis. SMAK Santo Eugenius Purwokerto adalah sekolah yang bermotto pada “living in comunity“-nya yang membuat hari – hari literasi semakin seru karena dapat berinteraksi antara individu dan saling bertanya serta memberitahu tentang hal – hal yang dibaca. Living in comunity juga membantu proses sharing para murid SMAK agar kempuan public speaking para murid semakin berkembang. Tidak hanya itu, kemampuan menganalisis juga memainkan peranan penting dalam kegiatan ini. Para murid harus menganalisis dengan teliti hal yang telah mereka baca untuk dijadikan karena sesudahnya mereka akan membuat resensi dari buku yang dibacanya tersebut.
Selain itu, para murid diajak untuk belajar memahami salah satu kemampuan yang berperan krusial dalam kegiatan ini yakni jika salah satu murid tidak memahami apa yang telah mereka baca maka mereka akan sangat kesulitan dalam mensharingkan inti pokok dari bacaannya. Menurut pendapat para murid kegiatan literasi ini seharusnya dilakukan tidak berkelompok karena ada beberapa murid yang memang tidak menyukai kegiatan sosial dan ada juga tanggapan dari murid lain bahwa mereka sangat tidak menyukai kegiatan ini karena membuang – buang waktu belajar mereka saja. Namun ada juga murid yang benar-benar menikmati kegiatan literasi ini karena kegiatan membacanya yang cukup seru dan dapat bebas memilih buku sesuai keinginan mereka. Ada juga yang beranggapan bahwa kegiatan literasi tersebut sangatlah seru karena menambah wawasan ber literasi. Beberapa murid ada yang tidak menyukai cara ber literasi per ruangan tersebut karena seharusnya mereka bebas memilih tempat untuk membaca.
Kegiatan literasi kesempatan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik
Tidak hanya murid, para guru juga ikut serta dalam kegiatan ini dan yang menariknya, mereka juga mengisi resensi dan sharing. Menurut tanggapan salah seorang guru kegiatan ini sangat bermanfaat, tidak hanya sekedar kegiatan membaca sepanjang hari, tetapi menjadi salah satu cara yang tepat untuk mengontrol diri dari kegiatan bermain gadget yang cenderung membawa pada ketergantungan padanya. Selain itu, kegiatan literasi juga menjadi budaya yang baik untuk menjadi program keberlanjutan karena mampu memberikan pengalaman dan pendalaman diri murid untuk bertumbuh, apalagi kebanyakan buku yang di baca oleh murid berkaitan dengan pembelajaran dan mendalami diri sendiri.
Melalui buku yang dibacanya, banyak murid yang terdorong untuk berbenah diri contohnya seperti berusaha menghilangkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Melalui kegiatan literasi ini, mereka akhirnya menjadi sadar bahwa kebiasaan menunda-nunda pekerjaan adalah sesuatu yang kurang baik. Menyadari akan hal itu serta termotivasi oleh buku yang dibacanya, mereka berani merubah diri menjadi lebih baik. Pada akhirnya, kegiatan literasi di SMAK Santo Eugenius Purwokerto ini telah memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap murid. Meskipun terdapat berbagai kekurangan dan beberapa murid merasa kurang nyaman dengan pelaksanaannya, kegiatan ini tetap memberikan banyak manfaat, mulai dari meningkatkan kemampuan membaca, menulis, menganalisis, memahami informasi, hingga melatih kemampuan berkomunikasi melalui kegiatan sharing. Lebih dari sekadar membaca buku, kegiatan literasi ini telah menjadi kesempatan bagi para murid untuk memperoleh wawasan baru, menemukan motivasi, serta menyadari hal-hal dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan budaya literasi dapat terus berkembang di SMAK Santo Eugenius Purwokerto dan menjadi bagian dari proses para murid untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Tulisan perdana ananda Hilarus Alvaro, trima kasih sudah mau belajar berproses. proses belajar tentu masih jauh dr kata sempurna, namun kemauan belajar tentu patut diapresiasi. semoga tulisan ke depannya lebih diteliti supaya kata tidak ada yg kurang penulisannya. Semangat selalu anak-anak tercinta.