Sekolah tinggal di asrama? Apa kuat?

Pada saat ingin melanjutkan SMA pada tahun 2025, saya sangatlah bingung untuk melanjutkan sekolah di mana, dan dengan dukungan orang tua, saya memutuskan untuk merantau dan melanjutkan sekolah saya di SMAK Santo Eugenius Purwokerto. Ini adalah pertama kalinya saya merantau dan merasakan hidup berasrama. Nah, pada saat pertama kali menginjakkan kaki di asrama SMAK Santo Eugenius Purwokerto, saya sempat berpikir, “Apakah saya betah menjalani hidup berasrama? Apakah saya sanggup?” Jujur, ini adalah pilihan yang berat karena saya harus meninggalkan rumah dan memilih untuk hidup di asrama dengan pengalaman dan lingkungan yang baru.

Di sini saya akan menceritakan tentang pengalaman yang saya dapatkan saat pertama kali tinggal di asrama. Sebelumnya, belum ada orang yang menghuni asrama tersebut, kecuali staf guru yang tinggal di dalam asrama, dikarenakan mereka juga seorang perantau, dan merekalah yang membantu menyiapkan tempat atau ruangan seperti dapur, kamar asrama, toilet, dan lain-lain. Merekalah yang mengurus semua kebutuhan dan keperluan tersebut sebelum kami tiba.

Karena sebelumnya belum terlalu banyak orang yang menggunakan air di asrama, air di asrama sangatlah tercukupi dan terpenuhi karena tidak terlalu banyak air yang habis digunakan. Setelah kedatangan kami, muncullah masalah, yaitu permasalahan air. Masalah itu muncul dikarenakan banyaknya kami anak baru yang mendiami asrama, yaitu 24 orang. Permasalahan ini juga disebabkan oleh kecerobohan dan kelalaian kami.

Kecerobohan mengganggu kehidupan

Air di kompleks asrama putra dan putri bermasalah; tidak ada air yang mengalir di WC, kran, dan fasilitas lainnya. Hal ini sangat mengganggu aktivitas kami sehari-hari, terutama bersekolah, karena kami tidak bisa mandi, membersihkan diri, dan bahkan untuk mencuci baju saja sangatlah terganggu akibat air yang tidak mengalir. Kami sangat kesusahan dan bingung mengenai penyebab habisnya air di asrama kami. Nah, di sini Staf guru dan juga Kepala Sekolah mencari penyebab kami kehabisan air; ini sangatlah aneh, dikarenakan air yang kami gunakan, yaitu air dari sumur tersebut sebenarnya berkapasitas banyak, dengan kapasitas air kurang lebih 100.000 Liter. Sementara dalam sehari kami hanya menghabiskan beberapa persen airnya saja. Nah, kehabisan air yang kami alami sangatlah tidak masuk akal karena persediaan air di asrama kami sangat berlimpah.

Setelah diselidiki, ternyata kehabisan air yang kami rasakan diakibatkan oleh kecerobohan kami sendiri, yaitu dengan melakukan kelalaian karena tidak mematikan kran dan mengecek apakah flush air sudah berhenti mengalir di toilet kami masing-masing. Kran air kami biarkan mengalir begitu saja dan tidak dimatikan dikarenakan lupa, dan juga flush toilet tidak dicek dengan benar. Akibatnya air mengalir dan terus mengalir keluar melalui toilet. Akibat kecerobohan yang kami lakukan, aktivitas kami sangat terhambat dan bahkan sempat menunda misa yang akan kami laksanakan, karena semua anak asrama belum mandi.

Belajar tentang ketelitian dan kepekaan

Dari pengalaman yang kami dapatkan, kami belajar untuk lebih teliti dan juga peka dalam menjaga dan menggunakan fasilitas yang bersangkutan dengan penggunaan air. Kehabisan air yang kami alami tidak hanya sekali; kami mengalaminya lagi untuk kedua kalinya pada saat sebelum adik kelas kami datang. Tetapi, permasalahan air yang kami alami untuk kedua kalinya tidaklah lama karena kami sudah belajar peka terhadap hal-hal tersebut. Dan ya, pada saat diselidiki, ternyata penyebabnya sama, yaitu dengan tidak mengecek air yang dikeluarkan pada saat menggeflush air setelah menggunakan toilet. Air terus mengalir dan tidak berhenti, dan itulah yang menyebabkan kehabisan air.

Nah, pada tahun pembelajaran 2026, Sekolah kami menerima angkatan ke-2 dengan jumlah 31 murid. Saya sangat senang dengan kedatangan mereka dan bersemangat untuk menyambut mereka yang akan bergabung di komunitas SMAK. Nah, populasi asrama kamipun semakin banyak, permasalahan air tidak dapat dihindari dan permasalahan air pun terjadi. Permasalahan air ini muncul diakibatkan kelalaian mereka karena mereka juga baru pertama kali merasakan kehidupan berasrama dan belum terlalu peka akan hal-hal yang dapat merugikan bagi sesama.

Kehabisan air yang kami alami kali ini sungguh menghambat pekerjaan kami karena jumlah komunitas anak asrama sudah mencapai 53 orang. Saat air sama sekali tidak mengalir dan kami harus membersihkan diri, kami bergantian mengambilkan air untuk teman kami yang akan mandi. Peristiwa itu sangat melelahkan tetapi seru karena dapat membantu teman yang sedang memerlukan air.

Selang beberapa waktu, air pun sedikit mengalir, tetapi bukan air bersih yang mengalir dari saluran air tersebut, melainkan air lumpur berwarna hitam yang sangat bau serta tidak layak digunakan untuk mandi. Air tersebut kemungkinan besar berasal dari sisa-sisa air di dasar sumur yang mengendap dan keruh. Kemudian, saat sedang mencari di mana letak air yang bersih, saya mendapatkan air dari toilet ujung asrama yang terletak di samping LPK. Dikarenakan jaraknya yang cukup jauh, membawa air menggunakan ember sungguh melelahkan.

Tetapi, dengan mengambil air di toilet tersebut, saya mendapatkan sedikit air bersih, dan itu cukup memenuhi air yang akan digunakan teman saya untuk membersihkan diri. Nah, setelah teman saya selesai mandi, saya pun bergegas bergantian untuk mandi, dan pada saat menghidupkan shower, tidak ada air sedikit pun yang mengalir. Setelah ditunggu beberapa menit, barulah air sedikit mengalir. Tetapi yang keluar hanyalah air kotornya saja. Saya bingung bagaimana cara saya untuk membersihkan diri karena kami ingin melaksanakan misa bersama di Kapel. Karena itu akhirnya saya dan teman saya memutuskan untuk mandi di toilet Mas Nur (juru masak) yang terletak di dapur, tempat kami semua komunitas SMAK untuk makan. Memang hanya air di toilet tersebut lah yang masih aman dan tidak bermasalah serta bersih.

Saya dan teman saya pun pergi menuju ke toilet tersebut dengan membawa perlengkapan mandi dan handuk yang akan kami gunakan. Kami mengantri untuk mandi karena anak-anak lain pun ikut mandi di toilet tersebut.

Nah, itulah pengalaman baru yang saya rasakan karena permasalahan air yang kami alami hari itu. Setelah diselidiki, kemungkinan besar air tidak mengalir disebabkan oleh alat pompa air yang rusak dan juga kelalaian yang biasanya kami lakukan dan juga dilakukan oleh adik-adik kelas kami yang belum mengerti dan belum memahami hal tersebut. Dan karena air tidak kunjung mengalir, para staf dan Kepala Sekolah pun mengganti semua alat yang digunakan untuk menyedot air, dan permasalahan air pun selesai. Pada awal digantinya semua alat tersebut, air sedikit kotor dan membuat kulit kami gatal karena itu adalah air kotor yang berasal dari dasar sumur yang dalam. Tetapi, setelah beberapa waktu berselang, air pun kembali normal dan bersih kembali seperti semula.

Pembelajaran yang kami rasakan adalah semua komunitas SMAK terutama adik kelas kami yang baru saja datang ke asrama dan menjadi satu komunitas keluarga adalah jadilah orang yang peka akan masalah sekecil apa pun. Janganlah mengabaikan hal apa pun karena dengan sedikit kelengahan, itu dapat menyebabkan hal yang fatal ke depannya.

Maria Asri
Kelas: XI
Kumala Café, Peringatan Hari Lahir Santo Eugenius (1 Agustus 2026)