Oleh: Julian Tiofano Pasga

Suatu Kehormatan Bagi Saya di Usia Muda

 Menjadi seorang siswa SMAK Santo Eugenius Purwokerto sangatlah istimewa, terutama saat saya ditunjuk untuk membantu di dalam acara PUKAT (Profesional dan Usahawan Katolik), yang mereka selenggarakan di Cor Hotel, Purwokerto.

Dalam acara Bincang Bisnis dengan tema “Tetap Tegar di Masa Sukar”, pada tanggal 28 Agustus 2026 lalu, saya tidak sekedar menjadi penonton atau tamu yang di undang melainkan dipercaya menjadi panitia di dalam acara ini. Berpartisipasi di dalam acara sebesar ini bersama PUKAT Keuskupan Purwokerto, di usia yang masih duduk di kursi kelas 2 SMA merupakan pengalaman yang sangat indah, menyenagkan dan membahagiakan bagi saya.

Kolaborasi Luar Biasa: Pak Irwan Hidayat dan Andy F Noya

Momen berharga bersama moderator inspiratif, Andy F. Noya.

Pada acara malam itu terasa sangat begitu meriah karena di pandu langsung oleh seorang moderator yang begitu luar biasa dan amat terkenal siapa lagi kalau bukan Andy F. Noya. Dulu saya hanya melihat beliau di Stasiun Metro TV di acaranya yang sering kita lihat di TV yaitu “Kick Andy”. Tapi pada malam itu saya dapat melihat dan mendengarkan suaranya secara langsung, sebelumnya saya hanya mendengar suara khasnya di TV saja. Ini semua memberi kesan tersendiri dalam diri saya.

Dangan gaya bicara yang khas, santai, cerdas dan humoris, Andy F. Noya berhasil membawa acara bincang bisnis ini menjadi sangat hidup dan ceria. Ia membuka acara bincang bisnis ini dengan memperkenalkan secara singkat tentang Pak Irwan Hidayat sebagai (CEO PT. Sidomuncul) mengalir begitu alami dan penuh akan tawa serta canda sekaligus menginspirasi.

Ketegaran serta Kesederhanaan:

Belajar nilai kesederhanaan secara langsung dari Pak Irwan Hidayat.

Setelah itu Andy F. Noya memanggil Pak Irwan Hidayat untuk maju ke atas panggung, ketika nama beliau dipanggil dengan gegap gempita oleh Andy F. Noya, pak Irwan maju dengan perlahan penuh kesederhanaan menggunakan baju kaos oblong serta sendal jepit yang beliau kenakan di kakinya. Sungguh berbalik belakang  dibalik megahnya nama Sidomuncul. Pak Irwan tampil dengan sangat bersahaja, tanpa rasa sombong sedikit pun.

Setelah beliau naik ke atas panggung  beliau mulai mengisahkan perjalanan hidupnya mulai dari beliau masih kecil yang penuh akan tantangan, tentang kehidupannya yang dulu sering sakit-sakitan. Tapi waktu dan ketegaran mengubah itu semua. Sekarang beliau memiliki usaha yang begitu besar dan luar biasa, sosok yang dulu sakit-sakitan tapi sekarang justru dapat menyembuhkan jutaan orang melalui produk herbalnya  yang dikenal luas.

Antusiasme pada sesi tanya jawab

Suasana seminar ini pun serasa semakin hangat ketika sesi tanya jawab dibuka. Banyak dari peserta yang angkat tangan untuk bertanya, mulai dari pengusaha, para usahawan pemula UMKM, dan dari kalangan anak muda. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan kepada pak Irwan dan kepada Andy F. Noya, terutama tentang bagaimana mengelola bisnis kecil-kecilan sehingga dapat menjadi bisnis yang berkembang.

Jawaban yang diberikan oleh Pak Irwan sangat polos, jujur dan tidak berbelit-belit. Dalam menjawab pertanyaan peserta seminar ia tanpa pernah menggulang kata-kata yang ia lontarkan Dipandu oleh Andy F, Noya dengan pertanyaan-pertanyaan kritisnya, sehingga seminar ini tidak  kaku yang sering kali terasa  seperti pada seminar umumnya.  Peserta seperti mendengar suatu nasihat yang bijak dari seorang ayah kepada anaknya.

Belajar dari Filosofi Teras: Mengendalikan Hal yang Bisa Kita Kendalikan

Melihat perjalanan hidup Pak Irwan Hidayat membuat saya teringat pada satu bab di buku yang saya baca yaitu Filosofi Teras karya Henrry Manampiring. Di situ dijelaskan tentang “Dikotomi Kendali” bahwa di dalam hidup kita ini ada yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak bisa kita kendalikan.

Masa kecil Pak Irwan Hidayat yang sering sakit-sakitan dan situasi yang penuh akan tantangan, itu merupakan hal-hal yang di luar kendali beliau. Namun bagaimana beliau meresponnya? Beliau merespon itu semua dengan tetap tegar, kerja keras, kerendahan hati, dan usaha yang luar biasa ini adalah hal-hal yang ada di bawah kendali beliau. Beliau tidak pernah mengeluhkan nasib buruk yang menimpanya,  melainkan fokus mengendalikan pikiran dan usahanya sehingga dapat berkembang dan sukses seperti sekarang.

Prinsip: Mencintai Setiap Proses Kehidupan

Bukan hanya Dikotomi Kendali tetapi ada  pula yang namanya Prinsip yang mencintai takdir dalam ajaran Stoikisme. Beliau tidak menyesali masa lalunya. Tetapi dari masa lalu itu beliau bangkit untuk memulai hal yang baru dan sekarang dapat menjadi orang yang sukses. Beliau yang dulu pada masa kecilnya sering sakit-sakitan yang dihadapinya itu bukan halangannya untuk maju, tetapi itulah yang mendorong hadirnya empati yang mendalam dan menciptakan produk herbal yang menyehatkan banyak orang.

Rangkuman dan Pesan Mendalam dari Bapa Uskup Keuskupan Purwokerto

Acara bincang bisnis ini yang diselenggarakan oleh PUKAT Kesuskupan Purwokerto ini, semakin sempurna ketika Bapa Uskup merangkum serta menyampaikan pesan penutupnya di penghujung acara. Dengan tutur katanya yang lebut, penuh wibawa dan teratur memberikan pesan itu semakin menyentuh hati, Bapa Uskup memberikan pandangan rohani yang merangkum seluruh acara bincang bisnis ini bersama PUKAT di Cor Hotel Purwokerto. Bapa Uskup menegaskan kembali tema bincang bisnis ini yaitu “Tetap Tegas di Masa Sukar” menyadarkan hidup dan usaha yang teguh.

Secara khusus, Bapa Uskup juga menggunakan pepatah Latin dalam menyampaikan rangkuman dan pesan ini yang berbunyi Fiat Voluntas Tua (Terjadilah Kehendak-Mu), dari pepatah ini saya menyimpulkan bahwa setiap usaha yang kita kerjakan dengan penuh keyakinan itulah kehendak dari Tuhan yang mahakuasa. Tuhanlah yang jadi memberkati  kita dalam seluruh hidup dan usaha kita. Dari rangkuman Bapa Uskup itu juga saya mengambil kesimpulan apa yang terjadi pada Bapak Irwan Hidayat. Kesuksesan yang dicapai beliau bukan sekedar tentang banyaknya materi yang beliau kumpulkan, tetapi bagaimana kesuksesan tersebut tetap disertai kerendahan hati ketulusan hati serta tetap mengandalkan Tuhan didalam setiap usaha beliau.

Pesan Kitab Suci yang Menjiwai

Melihat penampilan Bapak Irwan yang seadanya menggunakan kaos oblong dan sendal jepit meski pun beliau adalah seorang CEO suatu perusahan yang sudah begitu terkenal, serta mendengarkan ragkuman serta pesan penutup dari Bapa Uskup, ada nilai-nilai Kitab Suci yang sangat menyentuh saya dalam melihat itu semua. Pelajaran mengenai kerendahan hati, saya melihat dan mengutip suatu ayat kitab suci dari Kitab Amsal 18;12, yang berbunyi “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan”. Ayat ini terlihat jelas dari sosok Bapa Irwan Hidayat, dimana kehormatan dan kekaguman orang padanya, tidak lahir dari kesombongan atau memamerkan harta bendanya, melainkan lahir dari kerendahan hati yang tulus.

Pengalaman Berharga Untuk Masa Depan

Sebagai siswa yang terbang jauh dari Kalimantan untuk menuntut ilmu di Purwokerto, Jawa Tengah, dan bersekolah di SMAK Santo Eugenius Purwokerto, mendapat kesempatan menjadi bagian dari panitia acara PUKAT Kesuskupan Purwokerto, ini adalah bekal hidup yang tak terlupakan.  Berada di tengah-tengah para pengusaha Katolik dan mendengarkan obrolan inspiratif dari Andy F. Noya dan Bapak Irwan Hidayat, serta menerima pesan rohani dari Bapa Uskup, semuanya ini merupakan pelajaran yang sangat mahal dan berharga bagi pengalaman hidup saya di usia muda.

Meskipun lelah seusai bertugas, tetapi saya membawa begitu banyak pengalaman dan nilai-nilai kehidupan yang bernilai. Kesederhanaan dari Bapa Irwan Hidayat, komunikasi yang lancar serta megah dari Andy F. Noya, kedamaian pikiran dari buku yang saya baca yaitu Filosofi Teras serta berkat Viat Foluntas Tua dari Bapa Uskup, kesemunya merupakan suatu dorongan bagi saya untuk melangkah menuju masa depan yang cerah.

 

Nama: Julian Tiofano Pasga

Hr/tgl: Selasa 01 September 2026

Tempat: SMAK Santo Eugenius Purwokerto.