Flora Mayriska Cristiani
Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Agustus 2026
Waktu : Pukul 14.00 – selesai
Tempat : Gudel, Baturaden
Penyelenggara : LPPM Universitas Jenderal Soedirman
PENDAHULUAN
Pada tanggal 14–15 Agustus 2026, saya bersama dengan teman saya mengikuti kegiatan Kemah Moderasi Digital yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Acara ini bertemakan “Penguatan Sadar Toleransi Antar Umat Beragama dan Kampanye Digital Moderasi Beragama”. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya sikap toleransi antarumat beragama, menghargai perbedaan, serta bijak dalam menggunakan media sosial. Kegiatan ini dihadiri oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai sekolah dan universitas di Wilayah Purwokerto
RINCIAN KEGIATAN HARI PERTAMA (Jum’at, 14 Agustus 2026)
Kegiatan hari pertama dimulai pada pukul 14.00 WIB hingga 22.00 WIB. Saat kami tiba, kami langsung disambut dengan ramah oleh Panitia. Di sana, kami bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda. Mereka berasal dari berbagai SMA di Purwokerto, serta beberapa mahasiswa dari universitas-universitas di Purwokerto.
Setelah saling berkenalan, kegiatan dibuka dengan doa bersama. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia dan anggotanya. Setelah itu, kami mendapatkan materi dari seorang dosen Universitas Jenderal Soedirman yang membahas “Konsep Moderasi Beragama di Indonesia”. Dalam materinya, dosen tersebut menjelaskan bagaimana cara kita menyikapi teman yang berbeda agama, pentingnya saling menghormati, serta cara menggunakan media sosial secara bijak agar tidak melakukan perundungan (bullying) kepada orang lain.
Pada pukul 16.00 WIB, kami diberi waktu istirahat (break) dan disuguhi makanan ringan serta minuman. Waktu istirahat ini kami gunakan untuk mengobrol lebih akrab dengan peserta lain, bertukar cerita, dan ada juga yang berfoto karena lokasi kegiatan sangat indah dan asri.
Pukul 16.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan materi kedua tentang “Implementasi Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sehari-hari“. Dalam sesi ini, kami diajak untuk melihat contoh-contoh nyata bagaimana sikap moderat bisa diterapkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kami belajar bahwa toleransi tidak hanya sebatas saling menghormati saat ibadah, tetapi juga dalam hal berteman, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik sehari-hari.
Puncak acaranya adalah pembakaran api unggun yang telah disiapkan Panitia tidak jauh dari area perkemahan. Di sekitar api unggun, kami bernyanyi bersama, menampilkan yel-yel kelompok, dan berbagi cerita inspiratif tentang pengalaman toleransi. Kegiatan ini sangat berkesan karena mempererat persahabatan kami semua. Hari pertama ditutup dengan doa malam dan istirahat di tenda masing-masing.
RINCIAN KEGIATAN HARI KEDUA (Sabtu, 15 Agustus 2026)
Hari kedua kami mulai pukul 06.00 WIB dengan senam pagi bersama untuk menyegarkan tubuh, lalu dilanjutkan dengan sarapan bersama di area perkemahan.
Pukul 07.00 WIB, kami mengikuti beberapa permainan yang sudah disiapkan oleh panitia. Bentuk permainan berupa estafet tepung, tabak gaya, dan melindungi balon. Setelah permainan selesai, kami diberikan tugas untuk membuat konten digital berupa poster atau video pendek yang bertemakan ajakan toleransi dan moderasi beragama. Setiap peserta membuat karyanya masing-masing, lalu mengunggahnya ke dalam folder yang sudah disediakan panitia. Kegiatan ini membuat kami lebih kreatif sekaligus belajar menyampaikan pesan-pesan positif melalui media digital.
Setelah dari permainan dan pembuatan konten, kami melanjutkan dengan sesi pemaparan materi penutup dan tanya jawab. Kali ini bahasannya tentang peran pemuda dalam menjaga perdamaian. Kami juga melakukan deklarasi atau ikrar sebagai generasi muda yang siap mengamalkan moderasi beragama
Acara hari kedua resmi selesai pada pukul 10.00 WIB. Sebelum pulang, kami sempatkan diri untuk foto bersama sebagai kenang-kenangan dan saling berpamitan dengan peserta lainnya.
KESAN-KESAN PRIBADI
Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan seperti ini. Awalnya saya agak canggung karena tidak kenal siapa pun dan harus bertemu dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Tapi perlahan-lahan, rasa canggung itu hilang. Mereka ternyata ramah-ramah dan mudah diajak ngobrol. Saya jadi sadar bahwa selama ini saya terlalu takut untuk dekat dengan orang yang berbeda agama, padahal sebenarnya tidak ada yang sulit kalau kita sama-sama mau membuka hati.
Saya juga baru menyadari bahwa selama ini saya sering kali kurang sadar dalam menggunakan media sosial. Kadang tanpa sengaja saya suka menyebarkan postingan yang belum tentu benar, hanya karena terlihat lucu atau menarik. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi lebih berpikir ulang sebelum membagikan sesuatu. Saya tidak mau ikut-ikutan menyebarkan hal-hal yang bisa menyakiti orang lain.
Yang paling berkesan buat saya adalah saat api unggun. Di malam itu, kami duduk melingkar di sekitar api sambil bernyanyi bersama dan meneriakkan yel-yel kelompok masing-masing. Suasana malam yang dingin terasa hangat karena kebersamaan kami. Kami saling tertawa dan bercanda, seolah sudah kenal lama padahal baru bertemu. Momen itu benar-benar membekas di hati saya.
Saya pulang dengan perasaan hangat dan penuh rasa syukur. Tidak cuma dapat ilmu baru, saya juga mendapat pengalaman seru dan teman-teman baru yang membuat kegiatan ini terasa lebih berkesan. Dari sini saya jadi mengerti kalau perbedaan itu bukan halangan buat kita saling menghargai. Malah justru perbedaan itu yang bikin kita bisa belajar banyak hal dari satu sama lain.
Purwokerto, 15 agustus 2026
Penulis Laporan
Flora Mayriska Cristiani
https://addlinks.pro/nuRwn