Refleksi satu tahun di SMAK Santo Eugenius Purwokerto

Rasanya baru kemarin….

Satu tahun telah berlalu. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di Tanah Jawa, meninggalkan rumah sederhanaku di Kalimantan Barat. Saat itu, ransel dan koper yang aku bawa hanya berisi pakaian dan buku – buku. Namun di dalam dadaku, tersimpan harapan yang besar, doa orang tua yang mengalir tanpa henti, dan rasa takut yang tak bisa kusembunyikan dari siapa pun.

Aku masih ingat jelas pagi itu. Hari di mana aku harus melepaskan pelukan hangat Ibu dan Ayah sebelum pergi. Matahari belum sepenuhnya terbit ketika aku sudah berdiri di depan rumah, dikelilingi oleh seluruh anggota keluarga yang kucintai. Ibu memelukku erat – erat, tangannya gemetar sambil membetulkan kerah bajuku. Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipinya yang mulai keriput. Suatu kata yang masih aku ingat yang keluar dari mulut mamakku “Jaga diri baik – baik, bang,” bisikannya dengan suara yang bergetar. “Jangan lupa makan, Jangan lupa berdoa.” Aku hanya bisa mengangguk, karena jika aku membuka mulut, pasti tangisku akan pecah.

Ayah berdiri di sampingku dengan tatapan yang dalam. Ia tidak banyak bicara, tetapi aku bisa melihat ada rasa bangga dan haru yang bercampur di matanya. Ia menggenggam tanganku erat dan mengucapkan kata yang membuat tangisku pecah, “Beranilah melangkah bang. Di sana kau akan belajar hal – hal yang tak bisa kau dapatkan jika kau sekolah di tempat lain atau diam di rumah.” Kalimat itu terngiang di telingaku hingga detik ini. Adiku yang masih kecil dan sangat beda jauh dari umurku. Aku hanya bisa menggendong dan menciumnya.

Saat motor sudah siap berjalan dan aku diantar bapakku, aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya saat itu. Aku melihat Ibu mengusap air matanya dengan ujung kain, dan melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan. Namun aku tahu, ini adalah jalan yang harus kutempuh, ini adalah pengorbanan yang harus kulakukan demi masa depanku dan masa depan keluarga.

Perjalanan panjang dari kampungku ke tempat untuk menunggu mobil melewati jalan perkebunan sawit yang sangat – sangat jelek yang berlumpur. Setelah melewati perjalanan yang sangat panjang, akhirnya aku datang ke SMAK Santo Eugenius Purwokerto. Sebuah sekolah yang kelak menjadi rumah keduaku. Di sinilah aku belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan.

 

Hari-hari yang menantang…

Hari pertama di sekolah itu terasa berat. Udara Purwokerto yang sejuk justru membuatku menggigil karena asing. Wajah – wajah baru bertebaran di mana – mana. Tidak ada satu pun yang kukenal. Logat bicara mereka yang berbeda terutama dari Kaltim. Kebiasaan hidup yang asing bagiku. Di dalam hati, aku bertanya – tanya, “Mampukah aku bertahan di tempat ini sendiri?

Awal – awal masuk ke Sekolah ini sungguh terasa sulit. Segala hal yang dulu selalu orang tua yang menolong, kini aku harus belajar mandiri dengan tanganku sendiri. Aku belajar membangunkan diri di pagi tanpa suara ibu yang membangunkanku. Aku belajar membereskan tempat tidur, mencuci pakaian kotor, dan mengatur uang saku agar cukup sampai akhir bulan. Semua serba baru. Semua perlu penyesuaian.

Tantangan terbesar bukan hanya soal belajar, piket, tetapi soal budaya. Di kampung halamanku, aku terbiasa dengan cara yang lantang dan terus terang. Orang – orang di sana blak – blakan dan apa adanya. Namun di sini, di Tanah Jawa, aku harus belajar berbicara dengan lembut, merendahkan suara, dan menjaga seriap kata yang keluar dari mulutku. Aku takut salah. Aku takut menyinggung. Kadang, diam menjadi pilihan yang aman bagiku.

Begitu pula dengan makanan. Di rumah, masakan itu selalu kaya akan rempah. Pedas, gurih, dan terasa hangat di perut. Sementara di sini, makanan terasa lebih manis dan bumbunya lebih ringan. Lidahku butuh waktu untuk menyesuaikan. Begitu pula dengan cuaca. Kalimantan yang lembab dan panas sepanjang tahun sangat berbeda dengan Purwokerto yang dingin di pagi hari dan sejuk di malam hari. Aku sering kedinginan. Aku sering merindukan hangatnya pelukan ibu dan ayah.

Namun, ada satu kekhawatiran terbesarku sebelum berangkat dulu: Asrama. Aku membayangkan tempat yang gelap, sunyi, dan menakutkan. Aku membayangkan kamar sempit dengan jendela yang selalu tertutup. Aku membayangkan teman – teman yang cuek dan malam yang sepi tanpa suara tawa keluarga. Bayangan itu membuatku hampir mundur. Aku hampir berkata pada Ayah dan Ibu, “Aku ingin pulang”

Sebuah titik balik…

Tetapi betapa kelirunya dugaanku. Saat pertama kali melangkah masuk ke asrama SMAK Santo Eugenius, aku justru disambut oleh senyuman – senyuman hangat. Para guru membantu mengangkatkan tasku. Teman sekamar menyapaku dengan ramah. Perlahan, segala ketakutanku mencair. Aku mulai merasakan suasana kekeluargaan yang begitu kuat di tempat ini. Mereka tidak memperlakukanku sebagai orang asing. Mereka memperlakukanku sebagai saudara.

Selama satu tahun di sini, aku mengumpulkan banyak kenangan berharga. Saat itu, kami sendiri yang memperkenalkan lingkungan sekolah, karena kami angkatan pertama, semua itu menjadi awal yang indah bagi perjalananku di sekolah ini.

Ada ibadah bersama yang menenangkan jiwa dan menguatkan iman. Setiap pagi, kami berkumpul di Kapel Sekolah untuk berdoa dan merenungkan Firman Tuhan. Saat – saat itu menjadi momen refleksi bagiku. Aku belajar untuk bersyukur atas segala hal yang telah kualami, baik suka maupun duka. Aku belajar untuk menyerahkan segala kekhawatiranku kepada Tuhan dan percaya bahwa kami semua adalah saudara dalam iman, terlepas dari latar belakang kami masing – masing.

Ada tugas kelompok yang melelahkan tetapi mengajarkanku arti kerja sama. Kami sering kelelahan dalam menjalani piket kami.

Namun paling berharga bukanlah ilmu di dalam kelas, melainkan pelajaran yang kudapat dari kehidupan sehari – hari. Aku belajar menjadi pribadi yang mandiri, berani memutuskan sesuatu dengan bijaksana, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan. Dulu, aku selalu bergantung pada orang tua untuk segala hal. Sekarang, aku harus membuat keputusanku sendiri dan menanggung konsekuensinya. Itu adalah pelajaran yang sulit, tetapi sangat berharga.

Terima kasih, SMAK Santo Eugenius Purwokerto, rumah keduaku. Terima kasih telah menjadi tempatku bertumbuh. Terima kasih telah menjadi saksi jatuh bangunku. Terima kasih telah mengajariku bahwa keluarga tidak pernah benar-benar jauh—selama cinta tetap ada di hati.

Satu tahun ini akan kukenang selalu. Bukan karena mudah, tetapi karena di dalam kesulitan itulah aku menemukan kekuatanku. Bukan karena indah, tetapi karena di dalam ketidakpastian itulah aku belajar untuk percaya. Bukan karena sempurna, tetapi karena di dalam segala kekurangannya, aku belajar untuk tetap bersyukur.

Salam rindu dari seorang anak perantau,

Kalimantan Barat – Jawa Tengah, 2026

Nama : Jodelys Niven Imanuel

Kelas : XI (11)

Lokasi : Kumala Cafe, Memperingati lahirnya Santo Eugenius De Mazenod (1 Agustus 2026)