Weekend Antiokhia ke-50 merupakan kegiatan retret yang dilaksanakan selama tiga hari, yaitu pada tanggal 19 Juni sampai 21 Juni di Rumah Retret Kaliori. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu para peserta mengenal Kristus lebih dalam, memahami arti kasih kepada sesama, serta membentuk pribadi yang semakin bertumbuh dalam iman. Melalui kegiatan ini, saya tidak hanya belajar tentang kehidupan rohani, tetapi juga belajar membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan menjadi pribadi yang lebih terbuka.

Selama mengikuti Weekend Antiokhia, ada banyak kegiatan yang menyenangkan dan bermakna. Semua kegiatan buat agar peserta dapat saling mengenal, bekerja sama, serta belajar menerapkan nilai-nilai kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Hari Pertama Kegiatan

Pada hari pertama, saya tiba di Rumah Retret Kaliori sekitar siang hari. Saat sampai di sana, saya langsung disambut dengan ramah oleh kakak-kakak tim Antiokhia. Sambutan mereka membuat saya merasa nyaman meskipun sebelumnya belum mengenal banyak orang.

Setelah melakukan pendaftaran, kami menerima name tag dan nomor kamar. Kemudian kami menuju kamar masing-masing untuk menyimpan barang dan bersiap mengikuti kegiatan malam. Setiap kamar dihuni oleh dua sampai tiga orang, dan kami tidak bisa memilih sendiri teman sekamar. Awalnya saya merasa canggung karena harus tidur dengan orang yang belum saya kenal, tetapi ternyata hal itu justru membuat saya mendapatkan teman baru dan belajar beradaptasi dengan orang lain.

Malam harinya, seluruh peserta berkumpul untuk mengikuti acara pembukaan. Kami diperkenalkan dengan tim Antiokhia dan seluruh peserta. Peserta berjumlah 45 orang, dengan 22 peserta berasal dari SMAK Santo Eugenius Purwokerto, sehingga Sekolah kami menjadi peserta terbanyak.

Kegiatan pertama yang kami lakukan adalah Gerak Lagu (GL). Lagu-lagu yang digunakan merupakan lagu-lagu yang ceria seperti lagu Sekolah Minggu sehingga suasana menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Meskipun awalnya masih malu-malu, lama-kelamaan semua peserta ikut bernyanyi dan bergerak bersama.

Selain itu, kami juga diajarkan membaur. Kegiatan ini bertujuan agar kami tidak merasa canggung saat berinteraksi dengan peserta lain, baik laki-laki maupun perempuan. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa semua orang adalah saudara dan harus saling menghargai.

Setelah GL, kami mengikuti presentasi materi yang dibawakan oleh tim Antiokhia. Cara penyampaiannya tidak membosankan karena disampaikan dengan semangat dan diselingi berbagai aktivitas. Setelah materi selesai, kami dibagi ke dalam kelompok yang berisi empat sampai lima orang untuk melakukan sharing. Dalam kelompok tersebut kami saling berbagi pengalaman dan mendengarkan cerita satu sama lain. Walaupun awalnya belum saling mengenal, suasana sharing terasa hangat dan membuat kami semakin akrab. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan permainan yang seru sebelum akhirnya kami beristirahat.

Hari Kedua

Hari kedua dimulai sejak pukul 05.00 WIB dengan doa pagi bersama. Setelah itu kami melanjutkan berbagai kegiatan yang sudah dijadwalkan. Selama mengikuti Weekend Antiokhia, semua peserta diminta untuk mengumpulkan handphone. Tujuannya agar kami lebih fokus mengikuti kegiatan dan tidak sibuk bermain media sosial.

Awalnya saya merasa agak sulit karena sudah terbiasa menggunakan handphone setiap hari. Namun, setelah menjalaninya, saya justru merasa lebih bisa menikmati setiap kegiatan dan lebih banyak berbicara langsung dengan teman-teman. Saya menyadari bahwa tanpa handphone pun kami tetap bisa merasa senang dan memiliki banyak momen berharga bersama.

Sepanjang hari kami mengikuti beberapa materi yang membahas tentang kasih, persahabatan, pengampunan, dan hubungan dengan Tuhan. Setiap materi selalu dilanjutkan dengan sharing kelompok sehingga kami bisa saling bertukar pengalaman dan belajar dari cerita teman-teman. Selain itu, ada juga berbagai permainan yang membuat suasana semakin seru.

Di sela-sela kegiatan, kami menikmati waktu istirahat, snack time, makan siang, dan makan malam bersama. Selama kegiatan berlangsung, kami juga diajarkan untuk selalu tepat waktu. Hal sederhana seperti datang sesuai jadwal ternyata mengajarkan kami untuk lebih disiplin dan menghargai orang lain.

Hari Ketiga

Hari terakhir menjadi hari yang paling berkesan karena semua peserta sudah saling mengenal dan merasa seperti keluarga. Pagi hari kami kembali mengikuti doa dan beberapa kegiatan terakhir. Setelah itu kami mengikuti permainan yang membutuhkan kerja sama, kekompakan, dan komunikasi yang baik antar anggota kelompok.

Permainan tersebut membuat kami semakin akrab dan mengajarkan bahwa kerja sama sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Tidak ada yang bisa menyelesaikan semuanya sendirian, sehingga kami harus saling membantu dan saling mendukung.

Setelah semua kegiatan selesai, kami mengikuti Misa Penutupan Weekend Antiokhia ke-50. Misa ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian kegiatan sekaligus menjadi momen untuk mengucapkan syukur atas pengalaman yang telah kami lalui selama tiga hari. Suasana perpisahan terasa cukup mengharukan karena kami harus berpisah dengan teman-teman baru yang sudah terasa seperti keluarga.

Bagi saya, mengikuti Weekend Antiokhia ke-50 merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar untuk lebih mengenal Tuhan, memahami arti kasih kepada sesama, dan berani membuka diri kepada orang lain. Saya juga mendapatkan banyak teman baru serta belajar hidup lebih disiplin, menghargai waktu, dan bekerja sama dengan orang lain.

Melalui kegiatan ini saya menyadari bahwa kasih tidak hanya dipelajari melalui materi, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. Saya berharap pengalaman yang saya dapatkan selama Weekend Antiokhia bisa terus saya terapkan dalam kehidupan di sekolah, keluarga, Gereja, maupun lingkungan sekitar. Saya juga berharap semakin banyak orang muda yang mau mengikuti kegiatan seperti ini karena banyak nilai positif yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nama: Stepani Grace

Kelas : XI
Tempat dan Tanggal : Kumala Café, Peringatan Hari lahir Santo Eugenius De Mazenod (1 Agustus 2026)