Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer 1:6)

 

Merefleksikan sebuah perjalanan panjang saya bersama orang muda, mengambil inspirasi percakapan Allah dengan Nabi Yeremia (Yer 1:4-8).  Pengalaman inilah yang kemudian saya terapkan dalam berdinamika murid-murid SMAK Santo Eugenius Purwokerto.

Masa muda sering kali dipandang sebagai fase transisi yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan pencarian identitas.  Mereka tidak bisa dikatakan masih anak-anak, tetapi belum bisa dikatakan juga sebagai orang dewasa.  Dalam perkembangan dunia modern saat ini, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda menjadi semakin kompleks. Saya merefleksikan percakapan Allah dengan Nabi Yeremia membawa pesan tersendiri dalam mendampingi dan berjalan bersama orang muda, Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah tidak pernah memandang rendah kemudaan seseorang. Kisah panggilan Yeremia memberikan pandangan yang sangat kaya tentang bagaimana Allah berdialog, mendampingi, dan mengutus seorang muda. Ketika Yeremia merasa tidak layak dan berkata, “Aku ini masih muda,” Allah justru mematahkan ketakutannya dengan janji penyertaan-Nya. Merefleksikan cara Allah menyapa Yeremia, saya merasa dipanggil untuk melihat kembali perjalanan panjang saya bersama orang muda, dan tetap berjalan bersama orang muda dengan pendekatan yang humanis dan transformatif, dan saya merasakan inilah yang menjadi fondasi utama living in community di SMAK Santo Eugenius Purwokerto.

Menerima kemudaan mereka apa adanya, menjadi pintu masuk dalam mendampingi mereka.  Dengan seperti ini, mereka akan merasa diterima, dipahami dan dicintai, apa adanya mereka.  Dengan segala potensi mereka, keterbatasan mereka dan mungkin rasa kurang percaya diri yang ada pada mereka.  Seperti ketika Yeremia berargumen tentang keterbatasan usia dan ketidakpandaiannya dalam berbicara, Allah tidak menolak atau memarahi dirinya. Allah mengetahui segala potensi sekaligus kerapuhan Yeremia bahkan sebelum ia dilahirkan. Menerima orang muda apa adanya berarti menghargai fase perkembangan mereka—dengan segala energi, kelabilan, idealisme, dan rasa ingin tahu yang besar.  Saya tidak boleh memaksakan standar saya sebagai orang yang lebih dewasa kepada mereka.  Saya berusaha menghindari ungkapan-ungkapan: ”kok gini”, ”harusnya seperti ini”, ”masa gitu saja ga bisa” dan sebagainya.  Saya berusaha menghargai proses pertumbuhan mereka sebagai pribadi yang unik dan berharga di mata Tuhan.

Tidak menghakimi atas segala pergumulan hidup mereka, melainkan menerima segala situasi yang ada pada mereka, menjadikan saya memahami dunia mereka.  Dunia remaja yang penuh dengan tekanan, pencarian jati diri, tuntutan akademik, kebimbangan dalam menatap masa depan, pertemanan, jatuh cinta, maupun dinamika sosial. Ketika mereka melakukan kesalahan atau merasa ragu, respons pertama yang mereka butuhkan bukanlah penghakiman atau label negatif.  Seperti Allah menanggapi ketakutan Yeremia dengan kelembutan yang meneguhkan: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda.” Perkataan ini bukan sebuah bantahan, melainkan sebuah ajakan untuk melihat melampaui keterbatasan diri. Saya berusaha menciptakan ruang yang aman bagi orang muda, di mana pergumulan, keraguan, dan kegagalan mereka diterima sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk disalahkan.  Saya belajar untuk bersikap lembut, tetapi tegas dalam menghadapi mereka.

Dengan tidak menghakimi pergumulan mereka, saya berusaha menyediakan telinga untuk mendengarkan cerita-cerita mereka. Seperti Allah mendengarkan keluh kesah Yeremia dengan penuh perhatian. Sebelum memberikan perintah besar untuk mengutusnya ke bangsa-bangsa, Allah terlebih dahulu membiarkan Yeremia mengutarakan isi hatinya yang paling jujur. Di era digital saat ini, orang muda sering kali merasa kesepian di tengah keramaian karena jarangnya komunikasi yang mendalam. Menyediakan telinga berarti memberikan waktu berkualitas untuk mendengarkan tanpa interupsi, tanpa terburu-buru memberikan nasihat, dan tanpa meremehkan masalah mereka. Ternyata dengan mendengarkan mereka, banyak hal saya suasana hati mereka, dan bahkan saya banyak belajar tentang dunia mereka.  Dengan didengarkan, orang muda merasa diakui keberadaannya dan dihargai martabatnya sebagai subjek, bukan sekadar objek dari sebuah aturan.

Hadir menjadi orang tua dan teman bagi mereka, Dalam perjalanan panjang tersebut, dalam banyak kesempatan mereka datang, mulai dari sekedar berbagi cerita, menumpahkan isi hati, meminta pendapat atas sebuah keputusan bahkan menjadi saksi dalam Sakramen Perkawinan.  Pendampingan yang efektif membutuhkan keseimbangan peran. Di satu sisi, orang muda membutuhkan figur otoritas yang bijaksana layaknya orang tua yang memberikan perlindungan, arah, dan nilai-nilai hidup. Di sisi lain, mereka membutuhkan kehadiran seorang teman yang bisa diajak berbagi tawa, memahami tren zaman, dan berjalan setara tanpa jarak yang kaku. Dalam dialog Yeremia, Tuhan menempatkan Diri-Nya sebagai otoritas tertinggi yang menetapkan masa depan Yeremia, namun sekaligus hadir begitu dekat untuk menyentuh mulut Yeremia dan memberikan kekuatan secara personal. Kehadiran ganda sebagai orang tua dan teman ini menumbuhkan rasa hormat yang lahir dari cinta, bukan dari rasa takut.

Ketika saya hadir menjadi orang tua dan teman, tanpa saya sadari, saya menciptakan suasana Hommy bagi mereka. Kata-kata Tuhan kepada Yeremia, “Janganlah takut… sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau,” memberikan rasa aman yang luar biasa. Rasa aman inilah inti dari suasana yang hommy (seperti di rumah sendiri). Rumah bukanlah sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah situasi di mana seseorang merasa dicintai, dilindungi, dan diterima sepenuhnya. Ketika orang muda berada dalam lingkungan yang hommy, pertahanan diri mereka yang kaku akan mencair. Mereka akan lebih berani mengeksplorasi bakat, mengekspresikan emosi secara sehat, dan mengembangkan karakter positif karena mereka tahu ada “rumah” yang selalu siap mendukung mereka.

Momen bertugas piket minggu malam terasa istimewa bagi saya, pada momen ini, saya sering memilih untuk bersama anak-anak yang mendapatkan tugas memasak makan malam daripada hanya duduk di ruang guru.  Ikut terlibat dalam dinamika mereka di dapur, mendengarkan celotehan mereka, cerita dan keluh kesah mereka, bergurau dan tertawa bersama mereka, membuat saya lebih dekat dan lebih mengenal mereka.

Suasana yang terinspirasi dari dialog kasih antara Allah dan Yeremia dan perjalanan panjang bersama orang muda inilah yang saya usahakan untuk saya lakukan dalam dinamika keseharian di SMAK Santo Eugenius Purwokerto. Dan saya bersyukur memiliki rekan kerja guru-guru muda yang bisa berdinamika bersama mereka, menjadi teman dan kakak bagi anak-anak ini. Sekolah ini tidak hanya memposisikan diri sebagai lembaga transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebagai komunitas iman dan pembentukan karakter yang inklusif bagi kaum muda.  Sekolah memberikan ruang untuk pemikiran dan ide yang muncul dari murid-murid, dan membantu untuk mengembangkannya.

 

Kumala Cafe, 1 Agustus 2026

Peringatan hari lahir St. Eugenius de Mazenod

AWS