Dari hiruk-pikuk menuju ke ketenangan
Tidak pernah kepikiran saya akan menginjakkan kaki saya di Rawaseneng, tempat yang begitu indah dengan pemandangan pohon yang hijau dan rimbun.
Sebagai orang yang terbang jauh dari Kalimantan dan bersekolah di SMAK Santo Eugenius Purwokerto itu merupakan pengalaman yang indah, keluar dari hiruk pikuk suasana di sekolah, menempuh perjalanan dari Purwokerto ke Rawaseneng Kabupaten Temanggung sekitar 4 jam menggunakan bus, itu merupakan perjalanan yang sangat panjang, tetapi perjalanan itu terasa begitu ajaib, rasa lelah didalam bus menempuh jarak sekitar 4 jam terganti oleh indahnya pemandangan yang terlihat dari kaca bus, pohon-pohon yang hijau, gunung Sindoro dan Sumbing yang menjulang tinggi dengan kecantikannya seakan-akan sedang berada di luar negeri.
Singgah Sejenak di Wonosobo dan Gua Maria Taroanggro
Dalam perjalanan ke Rawaseneng, kami singgah sejenak makan siang di daerah Wonosobo gunung dan hawa yang dingin menemani santap siang kami, menjadikan makan siang saat itu menjadi lebih segar dan sangat menenangkan, setelah makan siang kami menuju Gereja setempat untuk misa sebentar, setelah misa kami menyempatkan diri untuk berziarah sebentar di Gua Maria Taroanggro untuk berdoa sejenak, suasana Gua Maria yang begitu hening dan khusyuk membuat doa kami pun menjadi lebih damai, dan tenang.
Tiba di Rumah Retret Rawaseneng: Berjumpa dengan Para Rahib
Setelah kami makan siang, misa dan berdoa sebentar di Gua Maria, kami pun melanjutkan sisa perjalanan kami sekitar 1 jam lagi, tenaga sudah terisi semangat pun memancar kembali ditambah dengan pemandangan yang hijau dan asri membuat mata beserta perasaan mulai memuji keindahan buatan tangan Tuhan.
Tidak terasa 1 jam hampir berlalu, kami mulai memasuki jalan yang sempit dan berliku-liku dengan pohon-pohon hijau yang lurus dan menjulang tinggi menyambut kedatangan kami, setelah menempuh sisa perjalanan, kami pun sampai di rumah Retret Santa Maria Rawaseneng, gerimis kecil dan suara hening menyambut kedatangan kami. Jauh dari kebisingan kota dan hiruk-pikuk suasana di sekolah dan asrama, tempat ini menawarkan kita tempat untuk kita mulai merasakan indahnya kedamaian.
Hanya ada suara siul burung, gesekan bambu, dan suara dentingan lonceng yang menenangkan pikiran.
Ora et Labora: Kehidupan Para Rahib yang Menyentuh Hati
Setelah kami tiba disana, kami langsung siap-siap dan menuju ke aula rumah retret, kami bertemu dengan salah satu rahib yang akan menjelaskan kehidupan para rahib di Rumah retret Santa Maria Rawaseneng ini, banyak hal yang frater itu sampaikan, salah satunya yang masih saya ingat mereka hidup dengan pola “Ora et Labora” berdoa dan bekerja, kehidupan mereka bukanya hanya khusus untuk berdoa saja meskipun mereka berdoa tujuh kali dalam sehari, tetapi mereka juga punya banyak sekali perkebunan dan peternakan sapi yang mereka rawat dan pelihara.
Tak lama kemudian suara lonceng rumah retret pun berdentang, semua rahib masuk kedalam Gereja mereka untuk berdoa, kami pun diperbolehkan masuk untuk mengikuti mereka berdoa, saat mereka berdoa inilah yang membuat diri saya sangat merinding, mereka berdoa dengan menyanyikan ayat-ayat Mazmur dengan begitu indah dan merdu bak suara malaikat yang mendadak bernyanyi dari surga dengan iringan piano klasik yang sangat menyentuh hati.
Menyusuri Taman, Peternakan, dan Mengikuti Misa.
Tidak terasa kami sudah menghabiskan waktu satu malam, menginap di rumah retret Rawaseneng, paginya kami dibawa salah satu frater/rahib untuk keliling rumah retret dan lingkungan setempat, mulai dari tamannya yang banyak sekali berbagai patung, seperti patung Pieta, patung bunda Maria, dan masih banyak lagi yang dihiasi berbagai macam bunga yang beragam berwarna warni yang mengiasi taman di tempat itu, ada pula sumber air yang diberkati langsung oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, setelah dari situ kami dibawa meliahat peternakan sapi yang di pelihara oleh mereka sendiri, kemudian kami di bawa melihat rumah terakhir para rahib yaitu kuburan mereka, dan kemudian bertemu lagi dengan seorang rahib yang sedang membersihkan tempat itu, kami berdoa bersama dan berbincang sebntar di sana, kemudian setelah itu kami pulang ke rumah retret dan mempersiapkan mengikuti misa hari minggu.
Berkunjung ke Toko yang di Kelola para Rahib
Setelah mengikuti perayaan Ekaristi, kami pun berkunjung ke toko yang dikelola para rahib yang ada di situ hanya olahan dari hasil perkebunan dan peternakan yang dikelola para rahib.
Berbagai macam olahan yang ada disitu mulai dari kue basah dan kering, yogurt, susu dan masih banyak lagi, saya pun membeli satu yogurt yang di olah dari susu sapi murni hasil peternakan para rahib, disitu pun para rahib yang bekerja menjadi kasir dan membantu membereskan toko tersebut.
Pulang Membawa Kenangan dan Hati yang Baru
Tidak terasa kami pun pulang kembali ke Purwokerto banyak sekali kenangan yang dibawa dari sana dan hati pun menjadi baru melihat kehidupan para rahib yang hidup bekerja dan berdoa, mesti saya pulang dengan tubuh yang capek dan lelah tapi hati dan pikiran saya menjadi lebih baru, melihat kehidupan para rahib yang menyerahkan diri sepenuh-penuhnya kepada Tuhan.
Dari pengalaman ini kami diajak untuk melambat sejenak dari keributan dan kebisingan suara kota untuk menemukan kedamaian dalam kesederhanaan, serta setia menyelaraskan doa dan usaha dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nama : Julian Tiofano Pasga
Kelas : Sebelas (11)
Hr/tgl : Sabtu 01/08/2026 (Peringatan Hari Lahir Santo Eugenius de Mazenod)
Tempat Kafe Kumala Kota Lama Banyumas.
Luar biasa, belajar memaknai setiap perjalanan yang dilalui….
setiap perjalanan selalu memiliki kenangan, semoga teman2 kelas 10 nanti bisa merasakan moment indah perjalanan seperti ini ke Rawaseneng.