Menuju ke Rawaseneng

Pada tanggal 24 Januari 2026, seluruh murid-murid serta para guru SMAK Santo Eugenius Purwokerto memulai perjalanan menuju Rawaseneng. Perjalanan dimulai sekitar pukul 08.00 pagi dengan suasana yang hangat dan akrab, mencerminkan kekeluargaan yang kental di lingkungan sekolah kami.

Di tengah perjalanan, para guru di dalam bus memimpin doa Rosario yang dipandu oleh salah seorang teman dari SMAK Santo Eugenius Purwokerto. Usai berdoa, perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Wonosobo. Kami singgah di Taman Rohani Anggrung Gondok atau yang lebih dikenal dengan nama Taroanggro. Di sana, kami mengikuti perayaan Misa Kudus di kapel yang dipimpin oleh Romo Yohanes Damianus, OMI. Petugas lektor dan pemazmur berasal dari kalangan murid-murid SMAK Santo Eugenius sendiri. Setelah Misa selesai, kami mengunjungi Gua Maria untuk berdoa bersama. Suasana hening dan khidmat menyelimuti doa kami.

Kami juga mengabadikan momen dengan berfoto bersama serta menikmati keindahan Gua Maria yang asri, termasuk patung besar yang terletak di puncak anak tangga. Pemandangan alam Wonosobo yang menakjubkan turut memanjakan mata, terutama Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang tampak gagah di kejauhan. Udara sejuk yang terasa sangat kontras dengan suhu di Purwokerto menambah kesan tersendiri bagi kami.

Perjalanan ini terasa sangat istimewa karena merupakan pengalaman pertama bagi angkatan pertama SMAK Santo Eugenius Purwokerto menuju Wonosobo dan Rawaseneng. Setelah puas menikmati keindahan alam dan doa di Taroanggro, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pertapaan di Rawaseneng. Sepanjang jalan menuju lokasi, kami melewati jalan yang cukup sempit dan berkelok. Pemandangan di sepanjang rute sangat asri dengan pepohonan pinus dan beragam tumbuhan hijau yang masih terjaga kelestariannya.

Belajar di Pertapaan dari para Rahib

Kami tiba di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng saat hujan rintik-rintik turun. Setelah turun dari bus, kami segera menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sejenak dan membereskan barang. Tidak lama kemudian, kami berkumpul di aula untuk mengikuti presentasi yang disampaikan oleh seorang rahib. Dalam sesi tersebut, kami banyak belajar tentang makna pelayanan yang tulus dan kesiapan hati untuk melayani sesama tanpa memandang siapa pun. Para rahib memberikan teladan tentang kesetiaan dan pengabdian yang tulus. Setelah presentasi, kami menikmati camilan bersama, lalu kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri mengikuti doa malam bersama para rahib. Dalam kebersamaan itu, kami juga berjumpa dengan peziarah lain yang turut serta berdoa. Kami sangat terkesan melihat cara para rahib berdoa dengan khusyuk, tenang, dan penuh penghayatan. Setiap nyanyian dilantunkan dengan khidmat, mencerminkan hidup sederhana dan pelayanan yang sungguh tulus.

Keesokan harinya, Minggu pagi, 25 Januari 2026, kami diajak mengunjungi peternakan sapi serta tempat pengolahan hasil ternak yang dikelola oleh para rahib dan warga setempat. Kami juga berziarah ke makam para frater dan romo yang telah mendahului kami. Setelah itu, kami kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri mengikuti Misa pagi. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan sangat khusyuk. Kami kembali terkesan oleh kekhidmatan dan penghayatan para rahib dalam setiap bagian Misa. Usai Misa, kami mengisi waktu dengan mandi, makan, dan menikmati camilan bersama. Pada siang hari, kami berkesempatan mengunjungi taman Gua Maria dan beberapa sudut pertapaan lainnya sebelum akhirnya bersiap untuk pulang.

Setelah semua kegiatan selesai, kami naik ke bus dan memulai perjalanan pulang. Rasa lelah mulai terasa, namun kebersamaan dan kenangan indah selama perjalanan tetap mewarnai perjalanan kami. Sore hari, kami tiba di SMAK Santo Eugenius Purwokerto dan kemudian menuju ke asrama atau rumah masing-masing.

Pelajaran berharga

Dari seluruh rangkaian perjalanan ini, kami belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu tampak dari kemewahan atau pengakuan dunia. Para rahib yang hidup sederhana dan melayani dengan tulus menjadi teladan nyata bahwa kebahagiaan justru lahir dari ketulusan hati dan pengabdian kepada sesama. Mereka menjalani hidup dengan penuh syukur dan kesetiaan, tanpa memandang latar belakang siapa pun yang mereka layani. Maka, dari perjalanan ini kami menyadari bahwa kita semua dipanggil untuk melayani dengan sepenuh hati, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus yang dengan rendah hati melayani semua orang. “Melayanilah dengan sepenuh hati tanpa memandang siapapun, karena kita adalah umat-Nya yang dipanggil untuk bertumbuh bersama di dalam Kristus.”

Cornelia Aura, Kelas XI, 1 Agustus 2026, peringatan hari lahir Santo Eugenius De Mazenod, Kumala Cafe.