Santo Eugenius dan Spirit Pelayanan bagi Kaum Muda yang Terus Menyala Di SMAK Santo Eugenius Purwokerto

Santo Eugenius dan kaum muda yang terlantar

Santo Eugenius de Mazenod, Pendiri Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI), sejak awal kehidupan imamatnya, memfokuskan dirinya pada orang miskin yang terlantar. Terlantar dalam hal ini dia maksudkan, sesuai zaman yang ia alami saat itu, adalah mereka yang tidak mendapatkan perhatian dari Gereja baik karena keterbatasan petugas pastoral maupun karena memang tidak ada yang melihat hal tersebut atau kelompok tertentu itu sebagai prioritas dalam pelayanan pastoralnya. Revolusi Perancis yang mendatangkan sikap anti terhadap Gereja menciptakan ruang menganga bagi kaum muda yang tidak mengenal iman Kristen. Mereka menjadi salah satu kelompok yang tidak terperhatikan oleh Gereja walaupun jumlahnya sangatlah besar. Gereja terjepit oleh peraturan tegas dari Napoleon yang sangat menentangnya.

  1. Alfred A. Hubeng, OMI dan P. Rene Motte, OMI menggambarkan bagaimana situasi Gereja yang dikontrol sangat ketat oleh Napoleon saat itu. Secara ringkas, mereka menggambarkan bahwa di Perancis, tidak boleh ada publikasi apapun yang menyangkut bulla atau dokumen dari Paus yang dapat dibaca atau diakses oleh Gereja. Tidak diperkenanlah bagi Para Uskup untuk mengadakan pertemuan atau rapat terbuka tanpa seijin penguasa. Jumlah keuskupan dibatasi, demikian juga hal-hal yang menyangkut kegiatan kegamaan, termasuk di dalamnya aneka prosesi, semuanya dibatasi. Bahkan aturan pembunyian bell di gereja-gereja pun diatur dengan sangat ketat. Pendidikan Katolik dikontrol secara ketat oleh pemerintah. Para imam hanya diperbolehkan memberikan pelayanan katekese bagi umat menggunakan bahan yang sudah disetujui oleh para penguasa. Demikianlah halnya dengan tidak diperkenankannya bagi Gereja  untuk mengorganisir setiap pertemuan dan atau membentuk kelompok kaum muda.   Kelompok kaum muda manapun yang dicurigai mempunyai hubungan dengan Roma akan serta merta dibubarkan oleh pemerintah (bdk. Saint Eugene de Mazenod, Living in the Spirit’s Fire, Alfred A. Hubenig OMI with Rene Motte, OMI, 2004, 57-58).

 

Subjek sasaran yang sama namun berbeda tujuan

Kebijakan Napoleon terhadap Gereja Katolik membawa akibat yang sangat berat bagi kaum muda. Mereka menjadi kelompok termarginal secara iman. Namun, di sinilah panggilan seorang Eugene membara. Sebagaimana yang digambarkan  Jean Leflon, penulis biografi Santo Eugene, bahwa apa yang telah dilakukan oleh Napoleon terhadap Gereja, Eugene pun kelak akan melakukan hal yang sama. Bedanya adalah, kalau Napoleon menghancurkan masa depan Gereja dengan menjauhkan kaum muda dari iman kristiani, sebaliknya, Santo Eugene akan mendekati kaum muda untuk menghidupkan iman Gereja dan menciptakan  masa depan bagi Gereja. Eugene berkata: “Saya pun akan memusatkan perhatianku bagi kaum muda. Aku akan mengusahakan aneka cara untuk menjaga kaum muda (kristiani) dari kekuatan jahat yang mengancam kehidupan iman mereka. Aku akan menjiwai mereka dengan menanamkan dalam diri mereka sejak dini cinta akan kebenaran, rasa hormat terhadap agama, menjalankan hidup suci serta mampu melihat kerusakan yang besar dalam hidupnya  kalau mereka menjauhkan diri dari Gereja” (bdk, Leflon, Vol I, 415).  Demikianlah, Eugene memilih subjek sasaran yang sama dengan Napoleon, yaitu kaum muda, namun dengan visi dan tujuan yang amat berbeda. Ia membentuk kelompok kaum muda, memperhatikan kehidupan rohani mereka, yang pada akhirnya menciptakan kembali peluang bagi masa depan Gereja.

Menarik melihat sikap Santo Eugene yang tidak mau tunduk dengan keadaan yang mengancam kehidupan iman Gereja. Kontrol yang ketat serta aneka ancaman  dari Napoleon sebagai penguasa Perancis saat itu tidak memudarkan dan membuat dia terlilit oleh rasa takut. Sebaliknya, keadaan yang demikian mencekam itu memunculkan ide baru untuk berpikir serta bersikap strategis, memfokuskan diri pada pelayanan kaum muda jika ingin geliat iman Gereja di masa mendatang hidup kembali. Kaum muda dengan kehidupannya yang penuh dinamika menjadi oase baru bagi iman kristiani. Mereka bukan kelompok pemberontak, kelompok yang sering dicap cuek dan apatis terhadap kehidupan iman. Sebaliknya, bagi Eugene, kaum muda  membawa serta di dalam dirinya  potensi kehidupan iman yang terbuka, penuh kreativitas baru,  dan menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya kehidupan iman Gereja di masa mendatang. Eugene tidak membiarkan kerusakan terjadi lebih parah dalam diri kaum muda. Ia memulai pastoralnya dengan membentuk suatu kelompok kecil kaum muda.  Dalam perjalanan waktu, kelompok tersebut  menjadi  makin besar dan solid. Bahkan, menariknya lagi,  beberapa di antara kaum muda  yang ia bina, kelak masuk  menjadi   anggota Kongregasi Misionaris OMI yang ia dirikan.

 

Pelayanan bagi kaum muda berbasis pada pendidikan formal

Berkaca atas pengalaman dua ratusan tahun lalu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Santo Eugenius, dalam suatu refleksi yang panjang, Kongregasi OMI Indonesia memutuskan untuk mendirikan SMAK (Sekolah Menengah Agama Katolik) Santo Eugenius Purwokerto ini. Karya OMI bagi kaum muda melalui SMAK ini menambah khazanah pelayanan bagi kaum muda yang sudah dilakukan  selama ini,  yakni melalaui OMK (orang Muda Katolik) di paroki-paroki, kelompok kategorial seperti Antiokh, Choice, Roses, serta PPDM (Putra-Putri De Mazenod).  Perhatian dan fokusnya tetap sama, kaum muda Katolik. OMI ingin hadir di dunia kaum muda Katolik serta mengambil kesempatan untuk  mendidik mereka dengan satu tujuan pokok yakni agar mereka menjadi orang yang  mencintai Kristus dan mencintai GerejaNya.

Pilihan pelayanan kaum muda Katolik dengan basis pendidikan formal seperti SMAK ini merupakan suatu pendekatan baru bagi OMI Indonesia. OMI  memiliki banyak sekolah dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi  yang memfokuskan diri pada anak-anak dan kaum muda dari berbagai latar belakang agama.  Perhatian utama ditujukan bagi kelompok marginal dari berbagai latar belakang guna membantu mengangkat martabat mereka sebagai manusia seutuhnya, ciptaan Tuhan yang sempurna yang berderajat setara dan mulia sebagaimana seluruh manusia yang sudah ditebus oleh Kristus lainnya. Namun, di SMAK ini, selain hal-hal yang sudah digariskan tadi, pelayanan OMI ingin difokuskan pada kaum remaja yang beragama Katolik.

Pilihan ini dipandang strategis karena OMI ingin secara serius membina dan membentuk kaum muda Katolik yang berdedikasi pada Gereja dan mencintai Kristus secara lebih mendalam. OMI melihat bahwa di dalam diri kaum muda, terutama kaum remaja, tampaklah amat nyata dan kuat, keinginan untuk mengikuti Kristus dan mencintai Gereja dalam suatu kreativitas yang baru dan up to date dengan  zamannya. Yang dibutuhkan kaum muda ini adalah suatu lingkungan yang kondusif dan terarah, dengan suatu visi yang panjang dan realistis bagi kehidupan mereka.

Pilihan melayani kaum muda melalui lembaga pendidikan formal seperti SMAK ini dimaksudkan karena SMAK, dengan pengajaran keagamaannya yang memadai dapat membantu kaum muda ini berkembangn secara baik dalam iman maupun moral Kristianinya.  Pengetahuan keagamaan dan nilai-nilai Kristiani yang digeluti dari berbagai bidang mata pelajaran diyakini akan dapat membantu kaum muda ini secara menyeluruh pula melihat kehidupan pribadinya yang kaya dan penuh dinamika. SMAK mengatur dalam kurikulumnya pengajaran dan refleksi iman yang teratur dan terukur. SMAK juga adalah suatu program Negara Indonesia, yang menjamin kebebasan beragama dan kemendalaman dalam berpikir dan beriman. Kesempatan seperti ini dapat dimanfaatkan oleh Gereja dengan baik, sebagai suatu dukungan terhadap program pemerintah sekaligus mempersiapkan generasi muda Gereja  untuk menjadi pelayan firman Tuhan yang Hidup di masa-masa mendatang.

 

Kaum muda dan kontekstualisasi Gereja

Api dan spirit kharisma Santo Eugenius ini harus terus merambat dan menyala di dalam setiap denyut nadi dunia dalam jiwa-jiwa kaum muda. Kaum muda membawa di dalam diri mereka pembaharuan-pembaharuan dalam pendekatan pastoral dan katekese Gereja. Mereka membawa serta hermeneutik baru dalam menafsirkan dan mengkontekstualisasikan Firman dan Tradisi serta Magsiterium Gereja di dunia zaman now. Semoga Gereja memandang kehidupan anak muda tidak selalu dari sudut muram, suram, dan penuh tantangan yang mematikan.

Gereja Indonesia, melalui SMAK-nya, istimewanya SMAK Santo Eugenius Purwokerto ingin memandang dan memperlakukan kaum muda dari sudut dinamika dan kreativitasnya, dari pandangan penuh optimis dan bermakna, serta bervisi jauh ke depan. Baiklah disimak apa yang dikatakan Santo Paulus kepada Timotius berkaitan dengan cara pandang terhadap kaum muda seperti in. Paulus, kepada Timotius menulis demikian, “janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu dan dalam kesucianmu” (1 Tim 4:12). Singkatnya, apabila kita mau melihat Gereja mekar dan terus berkembang dengan usaha krerstif untuk kontekstualisasi baru ajarannya di setiap zaman ke depan, kaum muda semestinya menjadi salah satu prioritas pastoral kita.  Tuhan memberkati kaum muda dan setiap usaha pastoral Gereja yang mengarah pada pendampingan mereka.

 

Cafe Kumala, Banyumas

Sabtu, pada Peringatan Kelahiran Santo Eugenius de Mazenod, 1 Agustus 2026

Rm. Yohanes, Damianus, OMI

Kepala SMAK Santo Eugenius Purwokerto